
BaruMerdeka.com - Angkatan Udara Amerika Serikat meluncurkan uji
coba rudal balistik untuk memamerkan kemampuan bom nuklir negaranya di
tengah ketegangan yang terjadi dengan Korea Utara.
Uji coba senjata rudal tersebut dilakukan di pangkalan udara
Vandenberg di California Rabu (26/4) lalu waktu setempat. Rudal balistik
bernama Minuteman III itu membawa hulu ledak non-ekslosif sejauh 4.200
mil dan mendarat di Kepulauan Marshall.
"Uji coba ini sangat penting karena merupakan demontrasi kemampuan
pencegah nuklir bangsa kita," demikian pernyataan dari komandan AU,
Kolonel Chris Moss, seperti dilansir dari CNN, Jumat (28/4).
Minuteman III dikenal dengan senjata triad nuklir berbasis darat.
Pada uji coba kali ini, Angkatan Udara AS mencoba untuk meluncurkan
rudal yang dikontrol menggunakan pesawat terbang.
"Rudal balistik yang diluncurkan antar-benua ini diangkut dan
dipasang di Vandenberd kemudian diluncurkan oleh anggota awak pesawat,"
jelasnya.
AS secara teratur menguji sistem senjata nuklir antar-benua untuk
memverifikasi keakuratan dan keandalan senjatanya. Namun peluncuran
rudal kali ini dilakukan di waktu yang tidak jauh dengan peluncuran
sebelumnya pada 7 Februari lalu.
Peluncuran ini juga diyakini sebagai bentuk gertakan terhadap Korut yang kerap melakukan uji coba senjata nuklir.
Operasi kue keras adalah serangkaian
35 uji coba nuklir yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada tahun 1958.
Tes ini dilakukan pada ketinggian dan di dalam air. Pengujian dilakukan
pada tes lokasi tinggi di Nevada sedangkan kedalaman air dilakukan di
Samudera Pasifik. Tujuan dari tes dalam air adalah untuk memahami dampak
dari ledakan di air terhadap kapal perang.
Dua bom bernama Wahoo dan Payung diledakkan di dasar laut. Kedua bom itu
meledak di dekat Enewetak atol yang merupakan kumpulan dari 40
pulau-pulau kecil di kepulauan Pasifik. Menimbulkan ledakan raksasa
nuklir yang membuat air menyembur hingga beberapa meter ke udara. Tes
juga menyebarkan radiasi yang mencemari udara, air, dan kerusakan
kehidupan laut di daerah sekitarnya.
Pulau-pulau yang dekat dengan lokasi ledakan dan dihuni oleh 800
penduduk juga harus merasakan efek radiasi. Kemudian pada tahun 1980,
Amerika sedang membangun sebuah bangunan beton di pulau untuk membuang
tanah dan radiasi puing-puing yang mengandung.
No comments:
Post a Comment