Saturday, April 29, 2017

Tahukah kamu apa yang digunakan wanita zaman dulu sebagai pembalut?

 

BaruMerdeka.com - Pembalut atau tampon sudah menjadi bagian dari tradisi wanita selama ribuan tahun. Produk kesehatan dan kebersihan wanita ini telah mengalami perkembangan dari masa ke masa sampai ke bentuk bantalan dan silinder yang kita kenal sekarang. Tetapi bentuk pembalut di zaman dulu jauh lebih sederhana dan mungkin meragukan dari sisi higienitas. Pasalnya teknologi saat itu memang belum semaju sekarang. Jadi para wanita harus bersabar dengan pembalut yang tak nyaman dan bisa jadi membahayakan kesehatan.
Dari daun papirus, kulit pohon, sampai spons laut
Menurut jurnal medis tertua di dunia, Papirus Ebers, lembaran yang terbuat dari serat tumbuhan papirus digunakan oleh wanita Mesir kuno untuk mencegah darah menstruasi menodai pakaian. Praktik ini dilakukan pada abad 15 SM. Papirus merupakan tumbuhan yang mudah ditemui di Mesir dan biasa digunakan sebagai bahan pembuatan kertas. Untuk membuat lembaran pembalut, daun papirus kering disiram dengan air sampai lengket. Getah lengket tersebut berfungsi sebagai lem untuk merekatkan beberapa lembar daun sekaligus. 
Wanita dari suku pribumi Amerika menggunakan kulit pohon sebagai pembalut. Umumnya yang dipakai adalah bagian dalam kulit pohon aras (cedar) yang relatif lunak. Kulit pohon ini cukup tipis, ringan, dan memiliki daya serap lumayan. Sementara wanita dari kawasan Mediterania seperti Yunani lebih memilih bahan alami dari laut seperti spons (porifera).
Di Hawaii, sejenis tumbuhan paku yang disebut hapu'u biasa digunakan untuk tujuan ini. Hapu'u memiliki bagian ujung yang tertutup sejenis bulu. Inilah yang dipakai sebagai kain pembalut.
Di antara sekian banyak bahan yang digunakan sebagai pembalut oleh para wanita zaman dulu, barangkali rumput terdengar paling tak nyaman. Bahan ini umum digunakan di Afrika dan Australia.
Perempuan Romawi memilih wol, semetara wanita Arikara menggunakan kulit kerbau
Di zaman Romawi dan Yunani kuno, wol juga cukup sering dipakai untuk menyerap darah menstruasi. Bahan ini relatif lembut dan memiliki daya serap yang baik. Penggunaan wol disebutkan oleh ahli kesehatan kuno Hippokrates dalam catatan medisnya.
Para wanita dari suku Arikara, Amerika memanfaatkan kulit kerbau sebagai pembalut tradisional. Proses pengolahannya cukup panjang. Kulit harus direndam, diregangkan, dikerok, kemudian dikeringkan dengan proses pengasapan. Walaupun begitu, pembalut mungkin cuma produk sampingan dari kain kulit kerbau yang biasa digunakan untuk membuat pakaian pada masa itu.




No comments:

Post a Comment