
BaruMerdeka.com - Pembalut atau tampon sudah menjadi bagian dari
tradisi wanita selama ribuan tahun. Produk kesehatan dan kebersihan
wanita ini telah mengalami perkembangan dari masa ke masa sampai ke
bentuk bantalan dan silinder yang kita kenal sekarang. Tetapi bentuk
pembalut di zaman dulu jauh lebih sederhana dan mungkin meragukan dari
sisi higienitas. Pasalnya teknologi saat itu memang belum semaju
sekarang. Jadi para wanita harus bersabar dengan pembalut yang tak
nyaman dan bisa jadi membahayakan kesehatan.
Dari daun papirus, kulit pohon, sampai spons laut
Menurut
jurnal medis tertua di dunia, Papirus Ebers, lembaran yang terbuat dari
serat tumbuhan papirus digunakan oleh wanita Mesir kuno untuk mencegah
darah menstruasi menodai pakaian. Praktik ini dilakukan pada abad 15 SM.
Papirus merupakan tumbuhan yang mudah ditemui di Mesir dan biasa
digunakan sebagai bahan pembuatan kertas. Untuk membuat lembaran
pembalut, daun papirus kering disiram dengan air sampai lengket. Getah
lengket tersebut berfungsi sebagai lem untuk merekatkan beberapa lembar
daun sekaligus.
Wanita dari suku pribumi Amerika menggunakan kulit pohon sebagai
pembalut. Umumnya yang dipakai adalah bagian dalam kulit pohon aras
(cedar) yang relatif lunak. Kulit pohon ini cukup tipis, ringan, dan
memiliki daya serap lumayan. Sementara wanita dari kawasan Mediterania
seperti Yunani lebih memilih bahan alami dari laut seperti spons
(porifera).
Di Hawaii, sejenis tumbuhan paku yang disebut hapu'u biasa digunakan
untuk tujuan ini. Hapu'u memiliki bagian ujung yang tertutup sejenis
bulu. Inilah yang dipakai sebagai kain pembalut.
Di
antara sekian banyak bahan yang digunakan sebagai pembalut oleh para
wanita zaman dulu, barangkali rumput terdengar paling tak nyaman. Bahan
ini umum digunakan di Afrika dan Australia.
Perempuan Romawi memilih wol, semetara wanita Arikara menggunakan kulit kerbau
Di
zaman Romawi dan Yunani kuno, wol juga cukup sering dipakai untuk
menyerap darah menstruasi. Bahan ini relatif lembut dan memiliki daya
serap yang baik. Penggunaan wol disebutkan oleh ahli kesehatan kuno
Hippokrates dalam catatan medisnya.
Para wanita dari suku Arikara,
Amerika memanfaatkan kulit kerbau sebagai pembalut tradisional. Proses
pengolahannya cukup panjang. Kulit harus direndam, diregangkan, dikerok,
kemudian dikeringkan dengan proses pengasapan. Walaupun begitu,
pembalut mungkin cuma produk sampingan dari kain kulit kerbau yang biasa
digunakan untuk membuat pakaian pada masa itu.
No comments:
Post a Comment