BaruMerdeka.com - Robot adalah bagian besar dari teknologi modern. Di berbagai pabrik bantuan robot tak terelakkan, bahkan hingga mampu mengalahkan keterampilan manusia. Namun siapakah yang mempunyai robot terbanyak? Jawabannya adalah negeri ginseng.
Benar, dilansir dari Mashable yang mengutip International Federation
of Robotics, Korea Selatan memiliki jumlah robot yang cukup besar. Yakni
531 buah robot industrial di tiap 10.000 pekerja industri pabrik.
Angka ini mengalahkan beberapa negara yang sudah lama pula
menggunakan robot di industri mereka, seperti Singapura, Jepang, Jerman,
dan Amerika Serikat.
Menurut International Federation of Robotics, rasio standar rata-rata
antara robot dan manusia adalah 69 robot per 10.000 pegawai.
Pemerintah Korea Selatan sendiri sangat perhatian di bidang robotik.
Terbukti dengan alokasi dana pemerintah Korsel sebanyak 450 juta Dollar
untuk aspek robotik selama 5 tahun ke depan.

Robot setinggi 4 Meter di Korea Selatan 2017 BaruMerdeka.com
Meski demikian, robot-robot yang ada di Korea Selatan tak cuma robot
industrial. Berbagai robot seperti robot yang dibuat untuk menemani
minum soju, serta robot yang bisa dikendarai dengan tinggi 4 meter, yang
terlihat pada gambar di atas.
Robot dinilai memiliki kemampuan mengambil alih sedikitnya sepertiga
dari dua ribu pekerjaan yang hingga sekarang masih digarap manusia.
Begitu hasil riset Nikkei dan Financial Times.
Berdasarkan riset pula, Jepang yang notabene negara maju diketahui
belum mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial
intellegence). Mengingat, mayoritas pekerjaan di Negeri Samurai tersebut
belum diotomatisasi.
"Banyak pekerjaan di Jepang berpotensi di otomatisasi lantaran tren
jumlah penduduk yang menurun," kata Alastair Bathgate, CEO Blue Prism,
seperti diberitakan Nikkei, kemarin. Blue Prism adalah perusahaan
pengembang robot software ternama di Inggris.
Nikkei dan FT menyisir koleksi data McKinsey & Co yang merangkum sebanyak 829 okupasi dan 2.069 pekerjaan spesifik.
Terkait itu, hasil survei menunjukkan sebanyak 710 atau 34 persen
dari total pekerjaan bisa di-handle mesin. Kemudian, dari sekitar 40
persen okupasi, setengah dari pekerjaan turunannya bisa digarap mesin.
Kendati demikian, hanya sekitar lima persen okupasi yang diramal bakal sepenuhnya diotomatisasi.
Informasi McKinsey menunjukan, sekitar 75 persen atau 58 dari 77
pekerjaan perakitan di industri otomotif yang dilakukan secara manual
oleh pekerja bisa diambil alih mesin. Ini bukan kerugian buat pabrikan
otomotif, semacam, General Motors. Korporasi multinasional itu telah
menempatkan sebanyak 30 ribu robot di seluruh pabrikannya yang tersebar
di dunia. Sebanyak 8.500 diantaranya berbagi informasi setiap 90 detik
untuk mencegah malafungsi.
Otomatisasi tak hanya terjadi di pekerjaan fisik. AT&T,
perusahaan telekomunikasi Paman Sam, memakai robot software di 500 tipe
pekerjaan. Diantaranya, dokumentasi pesanan dan pengaturan ulang kata
sandi.
Menurut Dhruval Shah, Direktur Robotik AT&T, penggunaan robot
bakal meningkat tiga kali lipat akhir tahun ini. Sebab, sistem komputer
memiliki keunggulan dapat mengenali data tak benar dan menghitung lebih
cepat dan akurat ketimbang manusia.
Robot juga bisa mengerjakan 65 persen atau 39 dari 60 tipe pekerjaan
klerikal di sektor jasa keuangan. Sekedar ilustrasi, Goldman Sachs Group
memangkas secara dramatis jumlah trader, menyusul otomatisasi
perdagangan saham.
Investor kenamaan Jim Rogers meramalkan kecerdasan buatan akan menyapu bersih pekerjaan broker sekuritas dan kliring.
Sesempurna itukah robot? Tidak juga. Robot masih lemah dalam
pekerjaan yang membutuhkan pengambilan keputusan, perencanaan, dan
imajinasi.
Mengelola organisasi bukan pekerjaan robot. Buktinya, robot hanya
bisa melakukan 22 persen atau 14 dari 63 pekerjaan pimpinan perusahaan.
Selan itu, robot juga tak bisa mengambil alih pekerjaan pemain film
dan musisi. Sebab, hanya 17 persen atau 11 dari 65 pekerjaan artistik
yang bisa diotomatisasi.
Data McKinsey juga memuat informasi terkait proporsi pekerjaan yang
belum diotomatisasi di berbagai negara. Dalam hal itu, Jepang memiliki
proporsi tertinggi (55 persen) ketimbang negara-negara Eropa (46 persen)
Amerika Serikat (46 persen), China (51 persen), dan India (52 persen).
Padahal, dua negara terakhir sebenarnya juga masih memiliki
ketergantungan pada kerja manual, terutama di pertanian dan manufaktur.
Menurut McKinsey, banyak jenis pekerjaan di Jepang yang berpotensi
diotomatisasi. Semisal, pekerjaan di sektor manufaktur, asuransi, jasa
keuangan, dan birokrasi.
No comments:
Post a Comment