Monday, May 22, 2017

Pulang dari Saudi, Trump langsung cetak sejarah

 
BaruMerdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat sejarah baru. Usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Islamic Arab-American di Arab Saudi, Trump langsung melakukan lawatan ke Israel.

Dilansir dari Associated Press, Senin (22/5), Arab Saudi tidak memiliki hubungan dengan Israel. Kedua negara bahkan tidak memiliki hubungan diplomatik dan karena itu tidak ada penerbangan langsung antar kedua negara. Hal ini disampaikan juru bicara otoritas bandara Negeri Bintang Daud. Dengan demikian Trump menjadi orang pertama sekaligus presiden AS yang melakoni penerbangan dari Riyadh ke Tel Aviv.

Menyambut datangnya Trump, Perdana Menteri Israel menyatakan harapannya untuk bisa terbang langsung dari Tel Aviv ke Riyadh.

"Saya berharap suatu saat nanti seorang perdana menteri Israel bisa terbang langsung dari Tel Aviv ke Riyadh," tuturnya.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berkunjung ke Arab Saudi untuk bertemu Raja Salman bin Abdulaziz. Dalam pertemuan ini, Saudi berjanji akan menggelontorkan dana USD 20 miliar atau setara Rp 266 triliun ke perusahaan investasi swasta AS, Blackstone Group (BX).
Perusahaan yang memiliki kedekatan dengan Trump ini akan menggunakan dana tersebut untuk membiaya proyek infrastruktur di AS seperti jalan tol, bandara serta fasilitas publik lainnya.
Selain dari Saudi, CEO Blackstone Group, Steve Schwarzman mengatakan akan mendapatkan investasi USD 20 miliar lagi dari investor lainnya. Total dana pembiayaan yang akan dikumpulkan perusahaan ditarget mencapai USd 100 miliar.
"Trump sangat bersemangat membangun infrastruktur. Dia memahami secara intuisi manfaat pembangunan," ucap Steve seperti dikutip dari CNN, Senin (22/5).
Pengumuman investasi Saudi ke AS bertepatan dengan kunjungan pertama Trump ke Saudi. Dia kemudian memuji kemampuannya menarik investasi asing ke Amerika Serikat.
Amerika Serikat dan Saudi sudah menjalin hubungan erat selama beberapa dekade. Itu pula yang menjadi dasar perjanjian kerja sama persenjataan militer senilai USD 350 miliar antara kedua negara selama sepuluh tahun dan sebanyak USD 110 miliar akan segera dikucurkan.
Selama masa kampanye menuju kursi presiden, Trump selalu mengatakan Saudi harus bertanggung jawab atas peristiwa serangan 11 September 2001 di New York. Namun di saat yang sama Trump sedang menjalin kerja sama pembangunan hotelnya di Saudi.
Penulis sekaligus wartawan investigasi Max Blumenthal dalam wawancara dengan laman Russia Today mengatakan, Trump memang sudah piawai dalam urusan bisnis. Saudi di mata Trump dan menantunya Jared Kushner adalah ladang bagi pundi-pundi uang mereka. Jadi hubungan antara Trump dengan Saudi sudah lebih jauh dari yang orang kira.


Belum diketahui apakah kunjungan ini akan membahas masalah kepindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem

No comments:

Post a Comment