Wednesday, June 28, 2017

Ini strategi Panglima Gatot cegah ISIS di Marawi masuk ke Indonesia


BaruMerdeka.com - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengantisipasi adanya masuknya pelarian militan Maute dari Marawi, di Filipina Selatan. Pengamanan diperbatasan diperketat demi mengamankan stabilitas dan kesatuan NKRI.

Gatot mengatakan akan menutup semua akses yang mungkin bisa digunakan teroris ISIS di Marawi, Filipina Selatan masuk ke Indonesia. Pencegahan itu pun dilakukan di berbagai pulau terdekat dengan Marawi seperti Marore, Miangas, Tahuna, dan Kalawu.

"Pelarian ke Tarakan kita tutup, pelarian ke arah bitung lewat Marore, Miangas, Tahuna, Kalawu kita tutup. Akses menuju ke Maluku Utara juga kita tutup dengan operasi udara, dengan militer, patroli udara dan laut, kapal selam pun ditaruh di sana dan di tiap-tiap pulau tadi diadakan penebaran," katanya di Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta Utara, Kamis (15/6).

Dia menjelaskan, saat ini di Indonesia ada 16 tempat yang merupakan sel-sel tidur yang bisa kapan saja terbangun dan bergabung dengan ISIS. Sehingga sangat penting bagi Indonesia, untuk melakukan upaya pencegahan bertemunya teroris ISIS dengan bibit-bibit teroris.

"Di Indonesia ada 16 tempat itu tempat ISIS juga yang sudah ada. Sudah bergabung dengan kita. Kalau kita tidak segera tutup pelarian ISIS yang ke Indonesia maka akan berbahaya," paparnya.

Beberapa daerah yang dinyatakan terdapat sel-sel tidur itu yakni Bima di NTB, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mereka ini, kata dia, tidak diketahui kapan akan terbangun. Namun insiden bom belakangan di Indoensia memicu bangunnya sel-sel tersebut.

"Sel-sel ini kan tidur. Tinggal kapan bangunnya. Bila ada kejadian dia akan bangun. Ini yang sama-sama kita garap di sini," tutur Gatot.

Bahkan, seluruh prajurit TNI AD yang ditugaskan di Nusa Tenggara Timur sebagai daerah perbatasan, diminta untuk selalu waspada terhadap segala kemungkinan masuknya militan ISIS Marawi Filipina ke Indonesia. Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Mulyono menuturkan militan ISIS Marawi semakin besar.

"Marawi sudah besar, udah lawan pemerintah Filipina dan udah perang. ujung ujungnya nanti lari ke Indonesia," kata Mulyono di hadapan ratusan prajurit, ketika melakukan Safari Ramadan di Kupang, Selasa (13/6).

Menurut Mulyono, ada indikasi dan terdeteksi daerah-daerah di wilayah Indonesia Timur akan dijadikan pintu masuk militan ISIS, yang bermigrasi dari wilayah Marawi Filipina.

"Udah ada indikasi Marawi nanti masuk ke Indonesia, udah ada dokumen-dokumen yang kita buka basis digunakan di Indonesia untuk kekuatan ISIS yakni, Halmahera, Poso, kemudian di Jawa, kemudian di Aceh, di NTB, tidak itu saja di NTT juga ada masuk itu semua," ungkapnya.

Ia berharap deteksi dan pencegahan dini harus dilakukan oleh semua prajurit yang bertugas di seluruh wilayah NTT, terutama di beberapa pintu perbatasan antara negara Timor Leste maupun Australia.

"Mereka menyusup ke daerah-daerah yang retak, yang penduduknya panas gampang berkelahi. Yang banyak beda agamanya itu ya itu akan mereka masuk dan ujung ujungnya akan diadu domba. Maka hati-hati ya, kuncinya deteksi dini, cegah dini. Muncul indikasi ambil, muncul indikasi ambil, muncul indikasi ambil," tegas Mulyono.

NTT merupakan pintu masuk dari dua negara, maka antisipasi masuknya kegiatan-kegiatan yang besifat radikalisme atau yang besifat ilegal bisa dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan.

"Jadi kalau melihat ada bendera palu arit ambil, cari orangnya siapa yang pasang tak usah ragu-ragu. Presiden udah mengatakan gebuk, iya toh pernah dengar pidato presiden, salah satunya yang diomongin yakni komunis. Gebuk komunis artinya basmi," katanya di hadapan para prajurit.

Pemerintah tidak mau ketinggalan. Lima Menteri Pertahanan bakal menggelar pertemuan membahas kasus teroris ISIS yang saat ini berada di Marawi, Filipina Selatan. Lima menteri tersebut yakni Menhan Indonesia, Menhan Singapura, Menhan Malaysia, Menhan Filipina dan Menhan Brunei Darussalam yang dijadwalkan bertemu pada Senin 19 Juni mendatang.

"Ini masalah Marawi. Dampaknya sudah ke mana-kemana. Jadi kalau terjadi perkembangan situasi mereka sudah tahu," kata Menhan Ryamizard Ryacudu di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (16/6).

Dalam pertemuan tersebut bakal dibuka juga hasil penemuan dari intelejen Malaysia dan Filipina. Terutama dari Filipina yang bakal dibahas.

Ryamizard pun mengaku sudah bertemu dengan Presiden Filipina Duterte. Namun dia tak menjelaskan pokok pembicaraan yang ditawarkan Indonesia kepada Filipina.

"Saya sudah ketemu Duterte. Bukan masalah apa-apa. Presiden mau saja tetapi kan senat, belum tentu mau kongres," sambungnya.

No comments:

Post a Comment