Wednesday, July 12, 2017

Lama tak terlihat, istri Kim Jong-un muncul ke publik


BaruMerdeka.com - Setelah beberapa lama tak hadir di muka umum, istri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Ri Sol-ju kemarin terlihat mendampingi sang suami dalam konser perayaan keberhasilan meluncurkan roket antarbenua.

Dilansir dari laman Mirror, Rabu (12/7), banyak yang bertanya-tanya ke mana Sol-ju selama ini. Sejumlah rumor juga beredar, mulai dari keselamatannya yang terancam, ditendang dari keluarga Kim Jong-un, hingga hamil lagi.

Hanya sedikit yang bisa diketahui tentang Sol-ju. Penampilannya saat perjamuan di Pyongyang pada Senin lalu itu seperti menghidupkan kembali spekulasi hubungannya dengan diktator Korut tersebut.

Sebuah foto menunjukkan keduanya duduk berdampingan. Jong-un terlihat berbicara dengan pria berseragam. Sedangan dekorasi meja mereka dihiasi buah, bunga dan model mini peluncur rudal.

Menurut kantor berita Korea Selatan, ini kali pertama Sol-ju terlihat di muka umum sejak awal Maret lalu.
Korea Utara mengklaim telah berhasil meluncurkan rudal antarbenua, yang disebut-sebut bisa mencapai Alaska, Amerika Serikat. Peluncuran rudal ini dilakukan hanya beberapa jam sebelum perayaan kemerdekaan AS pada 4 Juli lalu. 
Sementara itu Rusia dan China mengajukan inisiatif bersama yang ditandatangani pada 4 Juli lalu untuk menyelesaikan krisis Semenanjung Korea. Insiatif ini mereka bawa dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

"Pertama-tama, ini adalah inisiatif komprehensif. Kita perlu menggarisbawahi perlunya implementasi penuh resolusi DK PBB," ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Rusia Tass, Kamis (6/7).

"Namun kita perlu mencatat bahwa resolusi ini tidak hanya menuntut agar Korea Utara menghentikan uji coba nuklir dan rudalnya, ini harus berisi pernyataan yang menunjukkan bukti adanya keinginan melanjutkan perundingan damai dan menemukan solusi politik dan diplomatik secara eksklusif di Semenanjung Korea," imbuh dia.

Menurut Lavrov, Rusia dan China menilai resolusi DK PBB yang diberikan kepada Pyongyang terlalu berat. Dengan resolusi berat tersebut, tak menutup kemungkinan bakal menimbulkan konsekuensi tak terduga di wilayah tetangga, seperti China dan Rusia.

Pasalnya, dengan resolusi yang memberatkan, sambung Lavrov, Korea Utara bukannya jera namun malah semakin semangat untuk 'membela diri' mereka.

"Bagi Rusia dan China, sangat jelas setiap usaha untuk membenarkan resolusi DK PBB ini memberatkan (Korut). Hal ini tidak dapat diterima dan malah akan menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga di wilayah tersebut," jelasnya.

Dia menambahkan, dengan 'mencekik' ekonomi Korut bukan berarti masalah selesai. Hal ini bagi Rusia tidak dapat diterima.

Sementara itu, tugas yang ditetapkan DK PBB adalah untuk menguraikan kembali Semenanjung Korea. Rusia merasa DK PBB menggunakan kesempatan untuk menggulingkan rezim di Korea Utara.

"Kami berasumsi bahwa tugas yang telah ditetapkan untuk DK PBB adalah menguraikan secara keseluruhan situasi di Semenanjung Korea, dan tidak boleh digunakan sebagai dalih untuk mencoba mengubah rezim di Korea Utara," sambungnya.

Pada 4 Juli lalu, tepatnya pada Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, Pyongyang meluncurkan rudal antarbenua. Peluncuran ini diklaim berhasil oleh Pyongyang dan menurut ahli bisa mencapai Alaska, AS.

Pemimpin Korut Kim Jong-un menuturkan peluncuran misil tersebut sebagai 'hadiah kemerdekaan untuk AS'.

No comments:

Post a Comment