
Seoul - Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence mengingatkan
Korea Utara (Korut) untuk tidak menguji tekad Presiden Donald Trump
terkait program nuklir dan rudal Korut. Ditegaskan Pence, semua opsi
terbuka untuk membatasi program senjata nuklir dan rudal negeri komunis
itu.
"Kami berharap untuk mencapai tujuan ini (denuklirisasi
Korut) lewat cara-cara damai namun semua opsi terbuka," ujar Pence dalam
konferensi pers di Seoul, Korea Selatan (Korsel) usai kunjungan ke
perbatasan dengan Korut.
"Hanya dalam dua pekan terakhir, dunia
menyaksikan kekuatan dan tekad presiden baru kami dalam
tindakan-tindakan yang diambil di Suriah dan Afghanistan," tutur Pence
seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (17/4/2017).
"Korut
harus melakukan dengan benar agar tidak menguji tekadnya (Trump), atau
kekuatan angkatan bersenjata AS di wilayah ini," tegas Wapres AS itu
dalam konferensi pers bersama Pjs Presiden Hwang Kyo-Ahn.
Menurut Pence, Korut menanggapi tawaran-tawaran AS dengan "penipuan yang
disengaja, janji-janji yang tak dipenuhi dan uji coba rudal."
"Kami
akan mengalahkan setiap serangan dan kami akan menghadapi setiap
penggunaan senjata konvensional atau nuklir dengan respons yang luar
biasa dan efektif," tandasnya.
Korea Utara (Korut) diyakini akan kembali melakukan uji coba nuklir
dalam waktu dekat ini. Sejumlah persiapan tengah dilakukan untuk itu.
"Kami
punya informasi intelijen bahwa Korut bisa melakukan uji coba nuklir
keenamnya pada minggu pertama April dan kami tengah dalam proses untuk
mengkonfirmasi hal ini," ujar sumber intelijen militer Korea Selatan
(Korsel) seperti dikutip harian Korea JoongAng dan dilansir media Press TV, Kamis (30/3/2017).
"Kami
telah menentukan bahwa Korut diharapkan menyelesaikan semua persiapan
untuk uji coba nuklir pada 31 Maret," imbuh sumber tersebut.
Pyongyang
sejauh ini telah melakukan uji coba nuklir sebanyak lima kali dan
beberapa kali peluncuran rudal. PBB dan Uni Eropa telah menjatuhkan
serangkaian sanksi terhadap Korut terkait program nuklir dan rudalnya.
Pyongyang menegaskan bahwa program nuklir dan rudalnya dimaksudkan untuk
menjamin keamanan dalam menghadapi kemungkinan agresi militer Amerika
Serikat.
Pada bulan Februari lalu, Korut meluncurkan sebuah rudal
ke perairan lepas pantai timur Semenanjung Korea, bertepatan dengan
pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo
Abe di Mar-a-Lago, sebuah resor milik Trump di Florida, AS.
Menurut
harian Korea JoongAng, ada kemungkinan besar bahwa Korut akan kembali
melakukan uji coba nuklir tersebut menjelang pertemuan antara Trump
dengan Presiden China Xi Jinping di resor Florida tersebut. Gedung Putih
memang belum mengumumkan secara resmi mengenai pertemuan tersebut.
Namun seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan, kedua
pemimpin akan bertemu pada 6-7 April mendatang.
"Waktu uji coba
ini bukan kebetulan," ujar Rah Jong-yil, mantan kepala badan intelijen
Korsel. "Kim Jong-Un (pemimpin Korut) jelas ingin membayangi pertemuan
tingkat tinggi China-AS tersebut dan untuk menggarisbawahi fakta bahwa
dia memiliki senjata nuklir," imbuhnya.
Sebelumnya, militer Korut pada awal bulan ini, juga menembakkan empat rudal balistik ke lautan dekat wilayah Jepang.
Ketegangan antara Pyongyang dan
Washington telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, menyusul
serangkaian uji coba rudal Korut yang memicu peringatan keras dari
pemerintahan Trump. Presiden Trump telah mengindikasikan dirinya tak
akan membiarkan Korut mengembangkan rudal balistik yang bisa mencapai
wilayah AS.
Sebelumnya, Pence juga telah menyatakan bahwa era
"kesabaran strategis" AS dalam berurusan dengan Korut kini telah
berakhir, setelah berlangsung lebih dari dua dekade.
No comments:
Post a Comment