Thursday, May 11, 2017

Wapres AS Ingatkan Korut Tidak Menguji Tekad Trump Soal Nuklir

 Bertemu Xi Jinping, Presiden Baru Korsel Bahas Provokasi Korut
Seoul - Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence mengingatkan Korea Utara (Korut) untuk tidak menguji tekad Presiden Donald Trump terkait program nuklir dan rudal Korut. Ditegaskan Pence, semua opsi terbuka untuk membatasi program senjata nuklir dan rudal negeri komunis itu.

"Kami berharap untuk mencapai tujuan ini (denuklirisasi Korut) lewat cara-cara damai namun semua opsi terbuka," ujar Pence dalam konferensi pers di Seoul, Korea Selatan (Korsel) usai kunjungan ke perbatasan dengan Korut.

"Hanya dalam dua pekan terakhir, dunia menyaksikan kekuatan dan tekad presiden baru kami dalam tindakan-tindakan yang diambil di Suriah dan Afghanistan," tutur Pence seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (17/4/2017).

"Korut harus melakukan dengan benar agar tidak menguji tekadnya (Trump), atau kekuatan angkatan bersenjata AS di wilayah ini," tegas Wapres AS itu dalam konferensi pers bersama Pjs Presiden Hwang Kyo-Ahn.
Menurut Pence, Korut menanggapi tawaran-tawaran AS dengan "penipuan yang disengaja, janji-janji yang tak dipenuhi dan uji coba rudal."

"Kami akan mengalahkan setiap serangan dan kami akan menghadapi setiap penggunaan senjata konvensional atau nuklir dengan respons yang luar biasa dan efektif," tandasnya.
Korea Utara (Korut) diyakini akan kembali melakukan uji coba nuklir dalam waktu dekat ini. Sejumlah persiapan tengah dilakukan untuk itu.

"Kami punya informasi intelijen bahwa Korut bisa melakukan uji coba nuklir keenamnya pada minggu pertama April dan kami tengah dalam proses untuk mengkonfirmasi hal ini," ujar sumber intelijen militer Korea Selatan (Korsel) seperti dikutip harian Korea JoongAng dan dilansir media Press TV, Kamis (30/3/2017).

"Kami telah menentukan bahwa Korut diharapkan menyelesaikan semua persiapan untuk uji coba nuklir pada 31 Maret," imbuh sumber tersebut.

Pyongyang sejauh ini telah melakukan uji coba nuklir sebanyak lima kali dan beberapa kali peluncuran rudal. PBB dan Uni Eropa telah menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap Korut terkait program nuklir dan rudalnya. Pyongyang menegaskan bahwa program nuklir dan rudalnya dimaksudkan untuk menjamin keamanan dalam menghadapi kemungkinan agresi militer Amerika Serikat.

Pada bulan Februari lalu, Korut meluncurkan sebuah rudal ke perairan lepas pantai timur Semenanjung Korea, bertepatan dengan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Mar-a-Lago, sebuah resor milik Trump di Florida, AS.

Menurut harian Korea JoongAng, ada kemungkinan besar bahwa Korut akan kembali melakukan uji coba nuklir tersebut menjelang pertemuan antara Trump dengan Presiden China Xi Jinping di resor Florida tersebut. Gedung Putih memang belum mengumumkan secara resmi mengenai pertemuan tersebut. Namun seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan, kedua pemimpin akan bertemu pada 6-7 April mendatang.

"Waktu uji coba ini bukan kebetulan," ujar Rah Jong-yil, mantan kepala badan intelijen Korsel. "Kim Jong-Un (pemimpin Korut) jelas ingin membayangi pertemuan tingkat tinggi China-AS tersebut dan untuk menggarisbawahi fakta bahwa dia memiliki senjata nuklir," imbuhnya.

Sebelumnya, militer Korut pada awal bulan ini, juga menembakkan empat rudal balistik ke lautan dekat wilayah Jepang.

Ketegangan antara Pyongyang dan Washington telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, menyusul serangkaian uji coba rudal Korut yang memicu peringatan keras dari pemerintahan Trump. Presiden Trump telah mengindikasikan dirinya tak akan membiarkan Korut mengembangkan rudal balistik yang bisa mencapai wilayah AS.

Sebelumnya, Pence juga telah menyatakan bahwa era "kesabaran strategis" AS dalam berurusan dengan Korut kini telah berakhir, setelah berlangsung lebih dari dua dekade.

No comments:

Post a Comment