
Tribunbaru.com - Polisi telah membekuk sopir truk hasil pembajakan
yang meneror para pejalan kaki di pusat kota Stockholm, Swedia.
Tersangka diketahui bernama Rakhmat Akilov, pencari suaka asal
Uzbekistan namun ditolak negara tujuannya.
Dilansir dari laman the Telegraph, Senin (10/4), Rakhmat diketahui sebagai pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan kerap mengunggah propaganda-propaganda kelompok teror tersebut. Selain itu, Rakhmat ternyata terlibat dalam obrolan mengerikan dalam grup chating yang beranggotakan pendukung ISIS.
Dalam aplikasi itu, Rakhmat berbincang dengan seorang ektremis yang menyebut dirinya sebagai Abu Fatyma melalui layanan pesan singkat WhatsApp, seperti dilaporkan koran Swedia Expressen. Lewat perpesanan itu pula, pelaku sempat menanyakan cara membuat bom.
"Bagaimana cara saya membuat bahan peledak? Besok saya ingin mencari kendaraan dan membawanya ke tengah keramaian," tulis Rakhmat, di mana Expressen menyebut perbincangan itu belum terkonfirmasi.
"Jangan buang waktu dengan sia-sia," balas Fatyma.
Dia lantas membajak sebuah truk yang sedang menunggu di dekat sebuat restoran. Rakhmat menyebut telah membawanya dengan kecematan tinggi dan menabrak pusat perbelanjaan Ahlens. Akibatnya empat orang terbunuh dan 15 lainnya terluka.
Setelah serangan teror itu, Rakhmat langsung melaporkan 'keberhasilannya' kepada Fatyma.
"Saya menabrak lebih dari 10 orang di pusat kota Stockholm, sekarang saya harus keluar dari sini," tutupnya.
Pesan itu langsung direspons Fatyma: "Tuhan Maha Besar, kawan ku, saya menangis, saya sayang kamu."
Kemudian dia meminta agar Rakhmat mengirimkan video di lokasi kejadian, yang diduga menjadi pesan terakhir pelaku sebelum akhirnya dibekuk polisi.
Polisi menemukan fakta di mana Rakhmat diperintahkan untuk keluar dari Swedia pada Desember lalu. Perintah itu diberikan karena permintaannya untuk izin tinggal di tolak enam bulan sebelumnya.
Sayangnya dia malah menghilang, membuat petugas memburunya dan akan mendeportasinya pulang, sampai akhirnya truk berisi bir yang dibajaknya dipacu dengan kecepatan tinggi di jalanan khusus pejalan kaki.
Dilansir dari laman the Telegraph, Senin (10/4), Rakhmat diketahui sebagai pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan kerap mengunggah propaganda-propaganda kelompok teror tersebut. Selain itu, Rakhmat ternyata terlibat dalam obrolan mengerikan dalam grup chating yang beranggotakan pendukung ISIS.
Dalam aplikasi itu, Rakhmat berbincang dengan seorang ektremis yang menyebut dirinya sebagai Abu Fatyma melalui layanan pesan singkat WhatsApp, seperti dilaporkan koran Swedia Expressen. Lewat perpesanan itu pula, pelaku sempat menanyakan cara membuat bom.
"Bagaimana cara saya membuat bahan peledak? Besok saya ingin mencari kendaraan dan membawanya ke tengah keramaian," tulis Rakhmat, di mana Expressen menyebut perbincangan itu belum terkonfirmasi.
"Jangan buang waktu dengan sia-sia," balas Fatyma.
Dia lantas membajak sebuah truk yang sedang menunggu di dekat sebuat restoran. Rakhmat menyebut telah membawanya dengan kecematan tinggi dan menabrak pusat perbelanjaan Ahlens. Akibatnya empat orang terbunuh dan 15 lainnya terluka.
Setelah serangan teror itu, Rakhmat langsung melaporkan 'keberhasilannya' kepada Fatyma.
"Saya menabrak lebih dari 10 orang di pusat kota Stockholm, sekarang saya harus keluar dari sini," tutupnya.
Pesan itu langsung direspons Fatyma: "Tuhan Maha Besar, kawan ku, saya menangis, saya sayang kamu."
Kemudian dia meminta agar Rakhmat mengirimkan video di lokasi kejadian, yang diduga menjadi pesan terakhir pelaku sebelum akhirnya dibekuk polisi.
Polisi menemukan fakta di mana Rakhmat diperintahkan untuk keluar dari Swedia pada Desember lalu. Perintah itu diberikan karena permintaannya untuk izin tinggal di tolak enam bulan sebelumnya.
Sayangnya dia malah menghilang, membuat petugas memburunya dan akan mendeportasinya pulang, sampai akhirnya truk berisi bir yang dibajaknya dipacu dengan kecepatan tinggi di jalanan khusus pejalan kaki.
No comments:
Post a Comment